MENUMBUHKAN CAHAYA KE-TUHANAN UNTUK MEWUJUDKAN JIWA MASYARAKAT YANG HARMONIS

MENUMBUHKAN CAHAYA KE-TUHANAN

UNTUK MEWUJUDKAN JIWA MASYARAKAT YANG HARMONIS

Oleh :

I Nengah Sumendra, S.Ag

“Om Swastyastu”,

I .  PENDAHULUAN

Era globalisasi masa kini menghadapkan umat manusia/masyarakat kepada serangkaian baru yang tidak terlalu berbeda dengan apa yang pernah dialami sebelumnya. Pluralisme agama, suku, ras, etnis, golongan, kepentingan, dll adalah fenomena nyata. Dimasa lampau kehidupan umat manusia relatif lebih tentram karena kehidupan umat  manusia bagai kamp-kamp yang terisolisasi dari tantangan-tantangan dunia luar. Sebaliknya masa kini kemajuan zaman menyebabkan persaingan hidup semakin ketat, pergaulan lintas etnis tidak bisa lagi di hindari, multi kepentingan semakin beragam, dll,  menyebabkan umat manusia dewasa ini harus pandai-pandai dan arif dalam menghadapi dan mengatasi persoalan dalam hidupnya.

Khususnya di Indonesia, umat manusia/masyarakatnya memiliki sederetan perbedaan diluar perbedaan yang mereka miliki dari sejak lahir. Seperti perbedaan  etnis, kebudayaan, adat-istiadat, agama, kepercayaan, politik, dll, fenomena ini bukanlah perkara mudah untuk hidup sebagai manusia yang kita yakini sebagai mahluk ciptaan manusia yang paling sempurna, apabila manusia itu sendiri tidak memiliki kearifan dalam menjalani hidup dan kehidupannya. Ketidak arifan akan perbedaan ini menyebabkan sampai di Era globalisasi ini masih timbul berbagai konflik baik konflik individu (personal) maupun konflik komunal (kelompok). Konflik individu misalnya; masih banyak orang stress dan kasus bunuh diri akibat tidak mampu mengatasi persoalan-persoalan dan tantangan yang dialami dalam hidupnya. Konflik komunal (kelompok) misalnya; Timbulnya konflik di tanah air baik vertical maupun horizontal seperti antara anak dan orang tua, antara istri dengan suami, antara partai politik satu dengan partai politik yang lain, perbedaan pendapat, keyakinan dll, kemudian  kasus sara seperti  Sambas, Sampit, Poso dan Maluku, dll yang telah lewat, menandakan bahwa kerukunan yang pernah dibangga-banggakan itu adalah bersifat semu. Apabila kondisi konflik personal maupun komunal ini dibiarkan tanpa berupaya untuk mengatasinya maka kecenderungan jiwa manusia dewasa ini akan semakin mengalami kekusutan mental, dan yang paling parah apabila generasi penerus kita selalu berguru (mencontoh) masa lalu tanpa berusaha untuk arif dan bijak, memahami, menelaah dan memenejemen agar didapat solusi pemecahan,  serta upaya sadar untuk keluar dari kenyataan konflik itu, maka akan terjadi tragedi sosial, kemanusiaan dan lingkungan yang semakin parah. Suasana/situasi dan kondisi ini kami sebut sebagai suasana/situasi dan kondisi yang penuh dengan kegelapan.

Situasi dan kondisi kegelapan itu muncul karena dewasa ini kecenderungan bagi banyak orang; lebih mengejar dunia matrial ketimbang dunia spiritual, terjadi degradasi moral, degradasi moral ini disebabkan karena memudarnya cahaya ke-Tuhanan yang ada dalam diri manusia itu akibat manusia dalam hidupnya tidak Eling. Maka untuk keluar dari kegelapan itu  manusia harus kembali Eling sebagai mahluk ciptaan Tuhan yang paling sempurna menurut kitab suci Veda, salah satunya yang tersurat dalam Sarasamuccaya, 4 menyatakan bahwa “Apan iking dadi wwang utama juga ya…” menjelma sebagai manusia itu adalah sungguh-sungguh utama (sempurna), dengan kelahiran yang utama ini mestinya manusia tidak boleh berlarut-larut tenggelam dalam kegelapan duniawi  karena kegelapan adalah sumber kehancuran. Untuk itu mari kita sebagai umat manusia keluar dari kekelapan itu, yang bisa dan harus di mulai dari diri kita masing masing, kemudian dalam lingkungan keluarga, dan selanjutnya dalam kehidupan bermasyarkat berbangsa dan bernegara, yaitu dengan Menumbuhkan Cahaya ke-Tuhanan  dalam diri, antar sesama dan lingkungan.

Berdasarkan uraian di atas maka permasalahannya  yang dapat  dirumuskan dan akan dipecahkan dalam tulisan ini sebagai berikut:

  1. Bagaimanakah Menumbuhkan Cahaya Ke-Ketuhanan untuk mewujudkan jiwa masyarakat yang harmonis ?

II. PEMBAHASAN

Menumbuhkan Cahaya ke-Ketuhanan yang dimaksud adalah tumbuhnya/terciptanya Cahaya ke-Tuhanan, suasana kebahagiaan (hita), kebahagiaan yang penuh dengan ketentraman, keharmonisan, keindahan, penyatuan, kesucian, dan pemuliaan atau dalam bahasa agama kita sebut sebagai keadaan yang penuh dengan nuansa sorgawi.

Cahaya ke-Ketuhanan ini harus ditumbuhkan dan dimekarkan bagaikan bunga padma (bunga teratai) dalam diri manusia disaat kelahiran, kehidupan, serta saat menuju dan di alam kematian. Mengapa demikian ? karena proses evolusi di dunia ini yang tidak bisa kita hindari adalah filsafat hidup yang harus dijalani oleh umat manusia yaitu sebuah siklus kehidupan; Utpati, Stiti, Pralina (Lahir, Hidup, dan kemudian Mati). Maka konsep menata hidup dan kehidupan ini yang ideal dan seimbang menurut Hindu adalah baik disaat kelahiran, disaat hidup, dan disaat kematian harus menumbuhkan/mewujudkan kehidupan yang penuh dengan nuansa sorgawi (cahaya ke-Tuhanan). Pernyataan ini diperkuat oleh ucap sastra suci Hindu yaitu dalam Bhuana Kosa III.80 sbb:

“Seluruh alam ini muncul dari Bhatara Siva (Tuhan), lenyap kembali kepada Bhatara Siva (Tuhan)”.

Ucap sastra suci Bhuana Kosa ini memberikan sebuah pesan kepada umat manusia hendaknya menyadari bahwa sesungguhnya kelahiran, kehidupan dan kematian itu bersumber dari dan menuju Brahman (Tuhan). Sehingga proses atau fase kehidupan yang baik adalah mulai dari kelahiran, disaat hidup sampai pada kematian hendaknya menumbuhkan karakter ke-Tuhanan, karena dengan karakter ke-Tuhananlah manusia dalam pendakian spiritualnya bisa mencapai Alam Brahman, yaitu sebuah alam yang penuh dengan nuansa Sorgawi dan pada akhirnya bersatunya spirit individu dengan spirit universal/Moksa (Brahman Atman Aikyam).

Berkenaan dengan bagaimana kita menumbuhkan cahaya ke-Tuhanan itu, untuk lebih jelasnya simaklah lebih lanjut uraian berikut ini:

Pertama; Dalam hidup dan kehidupan di dunia ini kita harus menuntun/membimbing diri kita agar selalu di jalan dan terpusat kepada Brahman (Tuhan). Seperti yang dinyatakan dalam kitab suci Veda, yaitu Kitab Bhagavadgita, IV.24 sbb:

“Brahmana ‘rpanam brahmana havir,

Brahmanau brahmana hutam,

Brahmai ‘va tena gantavyam,

Brahma karma samadhina”.

Artinya.

Dipuja Brahman, Persembahannya Brahman, oleh Brahman, dipersembahkan dalam  api Brahman, dengan memusatkan Meditasinya kepada Brahman, dalam kerja yang demikian akan mencapai Brahman.

Kedua; Dalam hidup dan kehidupan di dunia ini untuk mewujudkan masyarakat yang harmonis, mari kita stanakan karakter ke-Tuhanan dalam jiwa kita, sehingga apabila sudah tumbuh dan mekar karakter ke Tuhanan itu maka akan tercipta kejernihan dan keheningan dalam jiwa kita. Keheningan dan kejernihan jiwa ini adalah landasan/pondasi yang kuat untuk menumbuhkan mental dan moral yang berbudi luhur, Dengan mental yang baik dan moral yang berbudi luhur akan melahirkan sebuah tindakan yang subha karma (tindakan/prilaku yang baik), yang apabila hal-hal ini sudah tumbuh kokoh dalam jiwa kita maka musuh-musuh yang ada dalam jiwa kita seperti, kemarahan (kroda), kerakusan (lobha), hawa nafsu yang berlebihan (kama), kemabukan akan segala hal (mada), irihati (matsarya), memfitnah (rajapisuna) dan musuh-musuh yang lain kita lebur agar menjadi sebuah energi yang positif yang secara tidak langsung akan memberi vibrasi yang positif pula kepada orang lain dan lingkungan, dengan kekuatan energi positif (Cahaya ke-Tuhanan) yang telah mencerahi seluruh sekalian alam maka suana akan menjadi lebih terang, jernih dan tenang. Akhirnya dengan situasi dan kondisi inilah tercipta jiwa yang terang, dengan jiwa yang terang kita dapat berfikir yang lebih terang untuk mengatasi kekusutan mental yang masih dialami oleh banyak orang. Pernyataan ini diperkuat dalam  ucap sastra suci, yaitu Geguritan (kidung suci/kirtanam) Sucita Subudi sebagai berikut :

“Jenek ring Meru sarira, Kastiti Hyang Maha Suci, Mapuspa Padma Hredaya, Maganda ya tisning Budi, Malepana Sila Hayu, Mawija Menget Prakasa, Kukusing Sad Ripu dagdi, dupan ipun, Madipa hidepe galang”.

Artinya.

“Berstanalah Purusa dan Pradana (Ardanareswari/Tuhan) dalam badan, kekuatan yang berasal dari alam Sunya turun membumi, Tumbuh mekar dalam hati bagaikan bunga padma yang sedang mekar, menggema dalam keheningan, menaburkan bau harum yang menciptakan kesejukan bagi budhi pekerti, mampu berprilaku yang baik, Tumbuh dengan kokoh perkasa , mampu melebur musuh dalam diri menjadi sebuah energi, Dupa (Agni/Paramatman/Jiwatman) menyala / bercahaya menerangi jiwa menjadi terang benderang.

Ketiga ; Dalam hidup dan kehidupan di dunia ini kendala dalam pembentukan masyarakat yang harmonis disebabkan oleh banyak hal, sehingga kendala- kendala itu harus diminimalisir agar terwujud Cahaya ke-Tuhanan itu. Metode/tehnik yang digunakan sebagai usaha untuk menumbuhkan cahaya ke-Tuhanan itu seperti ucap sastra Jnana Tattwa sbb:

“Nihan kang prayoga sandi kengetakena, Prayoga sandi ngaranya, utsaha lwirnya ; Asana, Pranayama, Pratyahara, Darana, Dyana, Tarka Samadhi”.

Maknanya.

“Inilah kata kunci untuk mencapai kestabilan gelombang pikiran (keharmonisan) dengarkanlah, Prayoga Sandi adalah sebuah usaha/upaya, diantaranya : Asana (Hidup dengan tenang), Pranayama (Pengendalian diri untuk harmonis), Pratyahara (penyatuan objek – objek indrya), Darana ( tahapan tindak lanjut dari pratyahara), Diana (tahapan awal stabilnya gelombang pikiran), Tarka (introfeksi diri untuk dapat berwiweka/membedakan mana yang baik dan yang buruk) yang pada akhirnya mencapai tingkatan ketenangan jiwa dalam kestabilan, kesucian, penyatuan, dan pemuliaan (Samadhi)”

III . PENUTUP

Dari uraian pembahasan di atas, maka kekusutan mental yang menggiring kearah kegelapan jiwa, maka dalam hidup dan kehidupan ini umat manusia harus tetap Eling (sadar) agar tercipta Cahaya ke-Tuhanan atau nuansa Sorgawi dalam kehidupan masyarakat dengan menggunakan kitab suci ataupun sastra-sastra suci sebagai ramuan untuk mengkonseling diri.

Sebagai wasana kata, semoga Cahaya ke-Tuhanan itu dapat mencerahi jiwa kita semua. Astungkara.

“Om Santih, Santih, Santih Om”.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s